Hari kedua Ramadhan selalu terasa lebih berat dari hari pertama.
Bukan karena lapar—tubuh masih sok kuat.
Tapi karena ekspektasi.
Hari pertama biasanya penuh semangat.
Hari kedua mulai muncul pertanyaan eksistensial seperti:
“Nanti buka pakai apa ya?”
Sore itu aku baru selesai menyapu ketika Abbasy duduk di lantai sambil memperhatikan aku dengan wajah penuh harap.
“Bun,” katanya,
“Ini hari kedua ya?”
“Iya.”
“Berarti kolaknya beda dong.”
Aku berhenti menyapu.
Sejak kapan anak empat tahun mengingat menu takjil?
Ketika Anak Kecil Jadi Arsip Menu Buka Puasa
Jaya lewat dapur sambil minum air putih.
“Kolak lagi?” tanyanya santai.
Aku mengangguk.
“Tapi beda.”
“Beda apa?”
“Isinya.”
Abbasy langsung berdiri.
“Kalau beda, berarti boleh nambah?”
Negosiasi buka puasa dimulai jauh sebelum azan.
Kenapa Kolak Ubi dan Singkong Selalu Dicari Saat Ramadhan
Ada masakan yang tidak pernah benar-benar viral, tapi selalu dicari.
Kolak ubi dan singkong salah satunya.
Murah.
Mengenyangkan.
Manisnya lembut, tidak bikin kaget perut setelah seharian puasa.
Dan yang paling penting:
isinya tidak gampang habis dimakan anak sebelum maghrib.
Aku buka dapur.
Ubi ada.
Singkong ada.
Gula aren masih setia.
Hari ini semesta mendukung.
Abbasy dan Ilmu Klasifikasi Kolak Versi Sendiri
Saat aku mengupas ubi, Abbasy berdiri di bangku kecilnya.
“Bun,” katanya serius,
“Kalau pisang itu kolak pisang,
kalau ubi ini kolak apa?”
“Kolak ubi.”
“Kalau dicampur?”
“Kolak ubi singkong.”
Dia berpikir sebentar.
“Oh…”
“Berarti kolak itu keluarga ya.”
Aku mengangguk.
Kadang logika anak kecil lebih masuk akal dari orang dewasa.
Resep Kolak Ubi dan Singkong Ramadhan ala Desi
Aku tulis resepnya rapi, karena ini menu takjil Ramadhan yang paling sering dicari setelah kolak pisang.
Bahan:
300 gram ubi (kuning atau ungu), potong besar
300 gram singkong, potong sedang
150 gram gula aren, serut
500 ml santan
2 lembar daun pandan
Sejumput garam
Air secukupnya
Bahan sederhana.
Tidak ada yang aneh.
Karena kolak itu bukan ajang pamer, tapi ajang pulang ke rasa aman.
Cara Membuat Kolak (Dengan Api Kecil dan Hati Tenang)
Aku rebus air bersama gula aren dan daun pandan.
Aromanya langsung bikin dapur terasa Ramadhan.
Setelah gula larut, aku masukkan singkong dulu.
Karena singkong keras kepala, butuh waktu.
Ubi masuk belakangan.
Api kecil.
Tidak boleh tergesa.
Terakhir santan dan garam.
Aku aduk pelan.
Kolak tidak suka panik.
Kalau panik, santan pecah.
Dan Ramadhan tidak butuh drama tambahan.
Detik-Detik Menjelang Maghrib
Kolak sudah matang.
Kompor mati.
Jam masih menunjukkan lima lewat tiga puluh.
Abbasy duduk di depan panci.
“Bun, ini boleh ditiup?”
“Belum.”
“Kalau aku tutup mata?”
Aku menahan senyum.
Puasa memang mengasah kreativitas anak.
Jaya melihat jam.
Lalu melihat kolak.
Lalu kembali melihat jam.
Kami semua menunggu.
Buka Puasa Hari Kedua: Hangat dan Tenang
Azan akhirnya terdengar.
Kolak disajikan.
Ubi empuk.
Singkong lembut.
Kuah manis dan hangat.
Abbasy suap pertama.
Diam.
Aku suap pertama.
Hangat.
Jaya mengangguk kecil.
“Ini pas.”
Kolak memang jarang bikin orang teriak “wah”,
tapi hampir selalu bikin orang tenang.
Catatan Kecil dari Dapur Hari Kedua
Hari ini aku belajar bahwa:
Hari kedua Ramadhan butuh takjil yang menenangkan
Ubi dan singkong lebih sabar dari manusia
Anak kecil bisa mengingat menu lebih baik dari jadwal sendiri
Dan yang paling penting:
kolak bukan cuma soal manis, tapi soal ritme.
Penutup
Hari kedua Ramadhan kami lalui tanpa ribut.
Kolak habis.
Perut aman.
Besok?
Entah menu apa lagi yang akan dituntut.
Kalau kamu juga punya takjil favorit hari kedua Ramadhan, tulis di kolom komentar ya.
Aku penasaran, rumahmu tim kolak juga atau mulai beralih ke gorengan?
Komentar
Posting Komentar