Nasi Goreng di Hari Ketika Semua Orang Tiba-Tiba Lapar Bersamaan



Hari ini aku belajar satu fakta pahit tentang kehidupan berkeluarga:

rasa lapar itu menular.

Awalnya cuma Mas Jaya.

Dia pulang agak sore, buka pintu, taruh tas, lalu menghela napas panjang seperti tokoh utama sinetron yang habis dikhianati.

“Aku lapar,” katanya.

Kalimat pendek.
Nada berat.
Tekanan emosional tinggi.

Aku masih bertahan.
Masih duduk.
Masih berharap lapar itu bisa ditunda.

Lima menit kemudian, Abbasy datang sambil menyeret kursi kecilnya.

“Bun, aku lapar juga.”

Padahal setengah jam lalu dia masih makan biskuit.

Aku tidak bodoh.
Aku tahu ini jebakan.


Diskusi Menu yang Tidak Pernah Efisien

Aku berdiri di dapur.

“Masak apa?”

Pertanyaan ini sebenarnya tidak pernah butuh jawaban.
Karena begitu aku menyebut satu menu, akan ada komentar.

“Nasi goreng?”
Mas Jaya: “Boleh.”
Abbasy: “Tapi jangan pedes.”
Mas Jaya: “Tapi jangan hambar.”

Baik.
Jadi pedes tapi tidak pedes.
Hambar tapi berasa.

Aku mengangguk sambil tersenyum seperti orang yang sudah menyerah tapi tetap ingin terlihat waras.


Dapur: Tempat Semua Logika Menghilang

Aku panaskan wajan.
Minyak masuk.
Bawang putih mulai harum.

Mas Jaya berdiri di belakang. Terlalu dekat.

“Pakai kecap manis?”
“Iya.”
“Jangan kebanyakan.”

Abbasy naik ke kursinya.

“Bun, nasinya jangan gosong.”

Aku berhenti sejenak.

Siapa yang pernah sengaja menggosongkan nasi goreng?
Apakah ini fenomena yang sering terjadi tapi aku tidak tahu?

Aku lanjut memasak.
Karena diam-diam, memasak adalah bentuk meditasi.


Resep Nasi Goreng ala Tekanan Keluarga

Bahan

  • Nasi putih secukupnya

  • 1 butir telur

  • Bawang putih, cincang

  • Kecap manis secukupnya

  • Garam

  • Minyak

Tidak ada bahan rahasia.
Yang rahasia cuma kesabaran.


Proses Memasak dengan Banyak Pengawasan

Telur aku orak-arik.
Nasi masuk.

“Bun, api gede ya.”
“Iya.”

“Bun, nanti gosong.”
“Iya.”

“Bun, baunya enak.”

Nah.
Akhirnya ada komentar positif.

Aku masukkan kecap. Sedikit.
Aku aduk cepat.
Aku matikan api.

Nasi goreng jadi.

Tidak cantik.
Tidak jelek.
Di tengah-tengah. Seperti hidup.


Makan Malam yang Sunyi Tapi Menghakimi

Kami duduk.
Sendok mulai bergerak.

Tidak ada yang bicara selama satu menit.
Ini fase paling menegangkan.

Abbasy berhenti duluan.

“Enak.”

Mas Jaya mengangguk.
“Ini nasi goreng yang aman.”

Aku tidak tahu itu pujian atau peringatan.
Tapi aku terima.


Catatan Absurd dari Dapur Hari Ini

Hari ini aku belajar bahwa:

  • Lapar itu bisa kompak tanpa janjian

  • Semua orang punya standar nasi goreng sendiri

  • Yang masak selalu disalahkan kalau gagal, tapi jarang dipuji kalau berhasil

Dan yang paling penting:
nasi goreng bukan cuma makanan.
Dia ujian kesabaran.


Penutup

Hari ini aku tidak menciptakan mahakarya.
Aku hanya memastikan semua orang berhenti mengeluh.

Dan di rumah ini, itu sudah prestasi.

Kalau kamu juga pernah masak sambil jadi penengah konflik lapar, tulis di kolom komentar ya.
Biar kita bisa saling menguatkan sebagai sesama korban dapur keluarga.

Komentar