Hari ketujuh Ramadhan datang dengan suasana yang aneh.
Bukan karena lapar—itu sudah jadi rutinitas.
Tapi karena minggu pertama sudah selesai.
Ada perasaan kecil seperti,
“Oh… ternyata kita sampai sini.”
Sore itu aku sedang menuang kolang-kaling ke saringan ketika Abbasy datang dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
“Bun,” katanya sambil menunjuk,
“Ini kenapa bening?”
Aku menjawab santai,
“Itu kolang-kaling.”
Dia mengambil satu, memegangnya di tangan.
“Ini kayak kelereng,” katanya.
Lalu menoleh cepat.
“Ini bukan mainan kan?”
Aku mengangguk cepat.
“Bukan.”
Keputusan penting hari itu.
Minggu Pertama Ramadhan dan Keinginan Kembali ke yang Familiar
Jaya masuk dapur sambil melirik panci.
“Kolak lagi?”
“Iya,” jawabku.
“Tapi lengkap.”
Dia mengangguk.
Kolak pisang kolang-kaling memang sering muncul di akhir minggu pertama Ramadhan.
Bukan karena kreatif.
Tapi karena nyaman.
Manisnya pas.
Isinya ramai.
Teksturnya bikin makan pelan.
Abbasy dan Teori Kolang-Kaling
Saat aku memotong pisang, Abbasy masih mengamati kolang-kaling.
“Bun,” katanya,
“Kalau ini kenyal, berarti dia olahraga ya?”
Aku berhenti sejenak.
“Mungkin.”
“Oh…”
“Berarti dia kuat.”
Aku tidak tahu harus jawab apa.
Aku lanjut masak.
Resep Kolak Pisang Kolang-Kaling Ramadhan ala Desi
Aku tulis resepnya rapi, karena ini termasuk takjil Ramadhan yang selalu dicari menjelang akhir minggu pertama.
Bahan:
4 buah pisang kepok atau pisang raja, potong besar
200 gram kolang-kaling, cuci bersih
150 gram gula aren, serut
500 ml santan
2 lembar daun pandan
Sejumput garam
Air secukupnya
Bahan sederhana.
Tidak ada yang aneh.
Karena kolak tidak butuh pembuktian.
Cara Membuat Kolak (Santai, Tapi Tepat)
Aku rebus air bersama gula aren dan daun pandan.
Aromanya langsung mengisi dapur.
Kolang-kaling masuk lebih dulu.
Api kecil.
Biarkan kenyalnya santai.
Pisang masuk belakangan.
Tidak boleh terlalu lama.
Terakhir santan dan garam.
Aku aduk pelan.
Abbasy mencium uap panci.
“Bun,” katanya,
“Ini bau kolak yang rame.”
Aku mengangguk.
Deskripsi itu pas.
Menjelang Buka Puasa Hari Ketujuh
Kolak matang.
Kompor mati.
Abbasy duduk sambil menghitung kolang-kaling.
“Bun,” katanya,
“Kalau aku dapat yang bening paling banyak, aku aman kan?”
Aku tidak tahu maksud aman versi dia,
tapi aku mengangguk.
Buka Puasa Hari Ketujuh: Ramai Tapi Tenang
Azan maghrib terdengar.
Kolak disajikan hangat.
Abbasy makan pelan, memilih kolang-kaling satu per satu.
Jaya menikmati tanpa komentar panjang.
Aku ikut makan sambil tersenyum kecil.
Minggu pertama selesai.
Dan rasanya… aman.
Catatan Kecil dari Dapur Hari Ketujuh
Hari ini aku belajar bahwa:
Akhir minggu pertama Ramadhan butuh takjil yang familiar
Kolang-kaling selalu bikin orang makan pelan
Anak kecil bisa serius pada hal paling sepele
Dan yang paling penting:
tidak semua hari harus beda, beberapa cukup terasa aman.
Penutup
Hari ketujuh Ramadhan kami tutup dengan kolak yang isinya ramai.
Panci kosong.
Perut tenang.
Besok masuk minggu kedua.
Mungkin sudah waktunya gorengan muncul.
Kalau kamu juga tim kolak pisang kolang-kaling, tulis di kolom komentar ya.
Aku penasaran, kamu lebih suka kolang-kalingnya banyak atau pisangnya?
Komentar
Posting Komentar