Kolak Pisang - Ketika Jam Dinding Jalan Lebih Lambat


Ada satu fenomena aneh yang hanya terjadi di bulan Ramadhan:
jam dinding seperti sengaja melambat mendekati waktu berbuka.

Pukul empat sore rasanya seperti jam dua.
Pukul lima sore rasanya seperti ujian kesabaran nasional.

Hari itu aku baru saja selesai beres-beres dapur ketika Abbasy duduk di lantai sambil menatap jam.

“Bun,” katanya pelan,
“Maghrib itu lama ya?”

Aku menoleh ke jam.
Masih satu setengah jam lagi.

“Sebentar lagi,” jawabku, meski aku sendiri tidak yakin definisi sebentar versi puasa itu apa.

Dari ruang tamu, Jaya ikut menyahut,
“Kalau ada kolak, biasanya maghrib lebih cepat.”

Aku berdiri.

Kalimat itu bukan saran.
Itu kode Ramadhan.


Ramadhan dan Menu yang Selalu Dicari Orang

Setiap Ramadhan, selalu ada satu menu yang entah kenapa selalu muncul di kepala semua orang.
Tidak janjian.
Tidak rapat keluarga.

Tiba-tiba semua sepakat:
kolak pisang.

Hangat.
Manis.
Tenang.

Dan yang paling penting:
tidak bikin ribut.

Aku buka dapur.
Pisang ada.
Gula aren ada.
Santan ada.

Berarti hari ini semesta mendukung.


Abbasy dan Logika Puasa Anak 4 Tahun

Saat aku mulai memotong pisang, Abbasy berdiri di bangku kecilnya.

“Bun,” katanya,
“Kolak itu minum atau makan?”

“Makan.”

“Oh…”
Dia berpikir sebentar.
“Kalau minum dulu, kolaknya lari nggak?”

Aku menggeleng.
Puasa memang membuat imajinasi makin liar.

Jaya lewat dapur sambil membawa gelas.

“Yang manis ya,” katanya.
“Biar puasanya nggak kaget.”

Aku tidak tahu puasa bisa kaget atau tidak,
tapi aku mengerti maksudnya.


Resep Kolak Pisang Ramadhan ala Dapur Rumah

Aku tulis resepnya rapi di sini, karena ini resep yang selalu dicari saat Ramadhan.

Bahan:

  • 5 buah pisang kepok atau pisang raja

  • 150 gram gula aren, serut

  • 500 ml santan

  • 2 lembar daun pandan

  • Sejumput garam

  • Air secukupnya

Bahan sederhana.
Tidak ada yang aneh.
Karena kolak itu bukan soal inovasi, tapi kenangan.


Cara Membuat Kolak Pisang (Sambil Menunggu Maghrib)

Aku rebus air bersama gula aren dan daun pandan.
Aromanya langsung naik.

Saat gula larut, aku masukkan pisang.
Api kecil.
Tidak boleh terburu-buru.

Terakhir santan dan garam.
Aku aduk perlahan.
Kolak tidak suka panik.

Abbasy mencium udara.

“Bun, ini bau Ramadhan.”

Aku tersenyum.
Kalimat yang lebih tepat tidak ada.


Detik-Detik Menjelang Buka

Kolak selesai.
Kompor mati.

Sekarang tinggal menunggu.

Jam menunjukkan lima lewat empat puluh lima.
Abbasy duduk tegak.
Jaya mulai sering lihat jam.

“Kolaknya boleh dicicip?” tanya Abbasy.
“Belum.”
“Oh…”

Dia duduk lagi.
Sabar versi anak kecil itu mahal.


Buka Puasa yang Selalu Sama Tapi Selalu Ditunggu

Azan akhirnya terdengar.

Kami duduk.
Kolak disajikan.

Abbasy suap pertama.
Diam.

Aku suap pertama.
Hangat.

Jaya menghela napas kecil.
“Ini dia.”

Tidak ada yang ribut.
Tidak ada yang minta tambah lauk duluan.

Kolak selalu punya efek menenangkan yang aneh.


Catatan Kecil dari Dapur Ramadhan

Hari ini aku belajar lagi bahwa:

  • Kolak pisang tidak pernah salah

  • Manis di awal buka bikin suasana rumah lebih lembut

  • Anak kecil lebih mudah puasa kalau ada kolak

Dan yang paling penting:
menu buka puasa bukan soal mewah, tapi soal rasa aman.


Penutup

Hari itu kami berbuka dengan kolak pisang.
Seperti banyak hari Ramadhan sebelumnya.
Dan mungkin seperti banyak rumah lain di luar sana.

Kalau kamu punya menu takjil favorit saat Ramadhan, tulis di kolom komentar ya.
Aku penasaran, rumahmu tim kolak juga atau tim gorengan?



Komentar