Kolak Jagung - Ketika Abbasy Menemukan Bahwa Jagung Bisa Jadi Manis


Hari kelima Ramadhan datang dengan suasana yang sudah agak santai.
Perut mulai paham aturan.
Mulut mulai berani berharap yang sedikit berbeda.

Sore itu aku baru saja selesai menjemur handuk ketika Abbasy datang membawa satu tongkol jagung mentah.

“Bun,” katanya sambil mengangkat jagung itu tinggi-tinggi,
“Ini buat apa?”

Aku menoleh.
“Buat kolak.”

Dia berhenti.

“Jagung kok kolak?”
Nada suaranya penuh kecurigaan.

Aku mengangguk.
“Bisa.”

Dia memandang jagung itu lama,
seperti sedang menilai apakah hidupnya akan baik-baik saja.


Hari Kelima dan Keinginan untuk Variasi

Jaya lewat dapur sambil membuka kulkas.

“Kolak lagi?” tanyanya.

“Iya,” jawabku tenang.
“Tapi bukan yang itu.”

Dia mengangguk.
Pengalaman Ramadhan mengajarkan satu hal:
jangan terlalu banyak tanya soal kolak.

Kolak jagung memang bukan menu utama di semua rumah,
tapi pencariannya selalu naik setiap Ramadhan.
Karena orang mulai bosan pisang,
tapi belum siap meninggalkan kolak.


Abbasy dan Teori Jagung Manis

Saat aku mulai menyerut jagung, Abbasy berdiri di sampingku.

“Bun,” katanya,
“Jagung itu kan buat dibakar.”

“Bisa juga buat direbus.”

“Oh…”
“Kalau direbus manis?”

Aku mengangguk.

Dia tersenyum.
“Berarti jagung bisa jadi dessert.”

Kesimpulan yang cerdas untuk anak empat tahun.


Resep Kolak Jagung Manis Ramadhan ala Desi

Aku tulis resepnya rapi, karena ini termasuk takjil Ramadhan yang sering dicari setelah kolak pisang dan kolak ubi.

Bahan:

  • 2 buah jagung manis, pipil

  • 150 gram gula aren, serut

  • 500 ml santan

  • 2 lembar daun pandan

  • Sejumput garam

  • Air secukupnya

Bahan sederhana.
Tidak ada yang aneh.
Karena kolak itu tidak suka dipaksa jadi modern.


Cara Membuat Kolak Jagung (Pelan dan Konsisten)

Aku rebus air bersama gula aren dan daun pandan.
Biarkan gula larut dan harum.

Jagung masuk lebih dulu.
Api kecil.
Biarkan jagung empuk dan manisnya keluar.

Terakhir santan dan garam.
Aku aduk perlahan.
Kolak tidak suka dikejar-kejar.

Abbasy mencium uap dari panci.

“Bun,” katanya,
“Ini bau jagung tapi lebaran.”

Aku tersenyum.
Deskripsi yang tidak salah.


Menunggu Maghrib dengan Jagung di Panci

Kolak matang.
Kompor mati.

Jam masih berjalan lambat.

Abbasy duduk sambil menghitung pipilan jagung di mangkuk.

“Kalau aku hitung, nanti boleh pilih jagung paling banyak?”
“Kita lihat nanti.”

Puasa memang penuh janji-janji kecil.


Buka Puasa Hari Kelima: Manis yang Berbeda

Azan terdengar.

Kolak jagung disajikan hangat.

Abbasy suap pertama.
Matanya melebar.

“Bun,” katanya pelan,
“Jagungnya manis.”

Aku mengangguk.
“Kan.”

Jaya menyendok kuahnya.
“Ini enak. Beda.”

Kolak memang tidak perlu heboh.
Cukup beda sedikit.


Catatan Kecil dari Dapur Hari Kelima

Hari ini aku belajar bahwa:

  • Hari kelima Ramadhan butuh variasi kecil

  • Jagung tidak keberatan dijadikan manis

  • Anak kecil lebih cepat menerima hal baru dari orang dewasa

Dan yang paling penting:
tidak semua kebiasaan perlu diulang persis sama.


Penutup

Hari kelima Ramadhan kami lalui dengan kolak yang sedikit berbeda.
Jagung habis.
Panci bersih.

Besok mungkin kami kembali ke yang lebih klasik.
Atau justru yang lebih sederhana.

Kalau kamu juga pernah bikin kolak jagung untuk buka puasa, tulis di kolom komentar ya.
Aku penasaran, kamu tim jagung pipil atau potong?



Komentar