Hari ketiga Ramadhan biasanya datang dengan satu kesadaran baru:
perut mulai paham ritme.
Tidak kaget lagi.
Tidak drama berlebihan.
Tapi juga mulai minta yang lembut-lembut.
Sore itu aku sedang menakar santan ketika Abbasy duduk di kursi kecilnya, menatap panci dengan serius.
“Bun,” katanya pelan,
“Ini bubur ya?”
“Iya.”
“Kenapa buburnya nggak pakai gigi?”
Aku berhenti mengaduk.
Pertanyaan yang sederhana,
tapi sulit dijelaskan tanpa filsafat.
Hari Ketiga dan Pilihan Takjil yang Aman
Jaya lewat dapur sambil melirik panci.
“Hari ini kayaknya enak yang ringan,” katanya.
Aku mengangguk.
Hari ketiga Ramadhan memang bukan waktunya eksperimen berat.
Yang dibutuhkan adalah takjil yang tenang, halus, dan tidak mengejutkan perut.
Jawabannya jelas: bubur sumsum.
Takjil klasik yang tidak pernah minta pengakuan,
tapi selalu dicari.
Abbasy dan Ekspektasi terhadap Bubur
Saat aku mulai mencampur tepung beras, Abbasy kembali bertanya.
“Bun,”
“Kalau buburnya putih, rasanya apa?”
“Gurih.”
“Kalau yang cokelat?”
“Manis.”
Dia berpikir sebentar.
“Oh…”
“Berarti ini bubur punya dua kepribadian.”
Aku mengangguk.
Penjelasan itu cukup.
Resep Bubur Sumsum Ramadhan ala Desi
Aku tulis resepnya di sini, karena bubur sumsum termasuk takjil yang paling sering dicari di hari-hari awal Ramadhan.
Bahan Bubur:
100 gram tepung beras
500 ml santan
Sejumput garam
Bahan Kuah Gula:
150 gram gula aren
200 ml air
1 lembar daun pandan
Tidak banyak bahan.
Karena bubur sumsum bukan soal ramai,
tapi soal halus dan tepat.
Cara Membuat Bubur (Dengan Kesabaran Tingkat Ramadhan)
Aku campur tepung beras, santan, dan garam.
Aduk sampai benar-benar larut.
Tidak boleh ada gumpalan.
Bubur sumsum itu sensitif.
Api kecil.
Aduk terus.
Dari ruang tamu, Jaya bersuara,
“Jangan ditinggal ya.”
Aku jawab pelan,
“Kalau ditinggal, dia ngambek.”
Kuah gula aku masak terpisah.
Gula aren, air, dan daun pandan.
Biarkan mendidih pelan sampai harum.
Detik-Detik Menunggu Bubur Mengental
Bubur mulai mengental.
Teksturnya lembut.
Licin.
Tenang.
Abbasy memperhatikan dengan wajah kagum.
“Bun,” katanya,
“Ini kayak slime tapi enak ya?”
Aku tidak membantah.
Perbandingan itu valid.
Buka Puasa Hari Ketiga: Lembut dan Hangat
Azan maghrib terdengar.
Aku tuang bubur ke mangkuk.
Kuah gula di atasnya.
Abbasy suap pertama.
Diam.
Aku suap pertama.
Hangat.
Jaya mengangguk pelan.
“Ini cocok buat hari ketiga.”
Tidak ada teriakan.
Tidak ada rebutan.
Bubur sumsum memang tidak mengundang drama.
Catatan Kecil dari Dapur Hari Ketiga
Hari ini aku belajar bahwa:
Hari ketiga Ramadhan butuh takjil yang lembut
Bubur sumsum tidak perlu banyak topping
Anak kecil bisa menerima apa saja asal dijelaskan dengan jujur
Dan yang paling penting:
tidak semua makanan harus dikunyah untuk bikin tenang.
Penutup
Hari ketiga Ramadhan kami lalui dengan pelan.
Bubur habis.
Panci bersih.
Besok mungkin kami kembali ke yang lebih bertekstur.
Mungkin gorengan.
Mungkin kolak lagi.
Kalau kamu juga tim bubur sumsum untuk buka puasa, tulis di kolom komentar ya.
Aku ingin tahu, kamu lebih suka kuah gulanya banyak atau secukupnya?
Komentar
Posting Komentar