Bubur Kacang Hijau - Abbasy Mengira Semua Bubur Itu Sama


Hari keenam Ramadhan biasanya datang dengan satu perubahan kecil:
perut sudah mulai berani minta yang lebih mengenyangkan.

Bukan cuma manis.
Bukan cuma lembut.
Tapi yang bisa bikin kenyang sampai tarawih.

Sore itu aku sedang mencuci kacang hijau ketika Abbasy duduk di lantai dapur, memperhatikanku dengan wajah penuh analisis.

“Bun,” katanya,
“Ini bubur lagi?”

Aku mengangguk.

Dia menghela napas kecil.
“Yang kemarin nggak dikunyah. Ini bisa?”

Aku berhenti sebentar.

“Bisa,” jawabku jujur.
Dia tersenyum lega.
“Oke.”


Hari Keenam dan Takjil yang Mulai Serius

Jaya masuk dapur sambil melihat panci.

“Bubur kacang hijau?” tanyanya.

Aku mengangguk.
“Hari ini yang bikin agak kenyang.”

Dia mengangguk balik.
“Bagus. Soalnya tadi siang aku mulai mikir makanan.”

Aku paham maksudnya.
Hari keenam itu rawan.
Kalau takjil terlalu ringan, bisa berujung nambah berlebihan saat makan malam.

Bubur kacang hijau biasanya jadi penengah yang adil.


Abbasy dan Penamaan Bubur yang Terlalu Jujur

Saat kacang hijau mulai direndam, Abbasy mendekat.

“Bun,” katanya,
“Ini namanya bubur kacang hijau ya?”

“Iya.”

“Berarti kacangnya banyak?”
“Iya.”

“Oh…”
Dia berpikir.
“Berarti ini bubur jujur.”

Aku mengangguk.
Tidak ada bantahan.


Resep Bubur Kacang Hijau Ramadhan ala Desi

Aku tulis resepnya rapi, karena ini termasuk menu takjil Ramadhan yang pencariannya stabil setiap tahun.

Bahan:

  • 200 gram kacang hijau, rendam minimal 2 jam

  • 150 gram gula aren, serut

  • 500 ml santan

  • 2 lembar daun pandan

  • Sejumput garam

  • Air secukupnya

Bahan sederhana.
Tidak ada yang aneh.
Karena bubur kacang hijau tidak suka banyak gaya.


Cara Membuat Bubur (Butuh Waktu, Bukan Emosi)

Kacang hijau aku rebus sampai empuk.
Api sedang.
Sabar.

Setelah empuk, gula aren dan daun pandan masuk.
Aromanya mulai berubah jadi khas Ramadhan.

Terakhir santan dan garam.
Aku aduk pelan.

Bubur kacang hijau tidak suka tergesa.
Kalau dipaksa, dia keras kepala.

Abbasy mencium aroma panci.

“Bun,” katanya,
“Ini bau kenyang.”

Aku tertawa kecil.
Itu deskripsi yang tepat.


Menunggu Maghrib dengan Bubur yang Berat Tapi Tenang

Bubur matang.
Teksturnya kental.
Tidak cair berlebihan.

Abbasy duduk sambil menatap mangkuk kosong.

“Bun, ini habis buka bisa tidur nggak?”
Aku menoleh ke Jaya.
Jaya mengangkat bahu.

“Kita lihat nanti.”


Buka Puasa Hari Keenam: Kenyang yang Terukur

Azan terdengar.

Bubur kacang hijau disajikan hangat.

Abbasy makan perlahan.
Tidak terburu-buru.

Jaya menghabiskan satu mangkuk penuh.
“Ini pas,” katanya.

Aku ikut makan.
Hangat.
Mengenyangkan.
Tenang.

Hari keenam memang butuh yang seperti ini.


Catatan Kecil dari Dapur Hari Keenam

Hari ini aku belajar bahwa:

  • Hari keenam Ramadhan butuh takjil yang mengenyangkan

  • Bubur kacang hijau tidak pernah pura-pura

  • Anak kecil bisa membaca fungsi makanan dengan jujur

Dan yang paling penting:
kenyang yang pelan lebih aman daripada kenyang yang tiba-tiba.


Penutup

Hari keenam Ramadhan kami lalui tanpa drama lapar lanjutan.
Bubur habis.
Perut aman.

Besok mungkin kami kembali ke yang lebih ringan.
Atau justru gorengan.

Kalau kamu juga tim bubur kacang hijau untuk buka puasa, tulis di kolom komentar ya.
Aku penasaran, kamu lebih suka pakai santan kental atau encer?


Keyword SEO yang masuk natural:

  • bubur kacang hijau

  • resep bubur kacang hijau

  • takjil Ramadhan

  • menu buka puasa hari ke-6

  • takjil mengenyangkan


Jika siap, saya bisa lanjutkan:
👉 Hari ke-7: Kolak Pisang Kolang-Kaling
atau langsung Hari 7–10 supaya stok konten aman.

Komentar