Tumis Kangkung di Malam yang Tidak Direncanakan

 



Malam itu seharusnya sederhana.

Tidak ada rencana masak macam-macam, tidak ada daftar belanja, bahkan aku sempat berpikir cukup goreng telur saja. Tapi seperti banyak malam lain di rumah ini, semuanya berubah setelah Mas Jaya duduk di ruang tamu sambil menghela napas panjang.

“Hari ini capek,” katanya singkat.

Abbasy sudah setengah mengantuk, rebahan di sofa sambil memeluk bantal. Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton. Aku berdiri sebentar di dapur, membuka kulkas, lalu menutupnya lagi. Isinya tidak istimewa. Tapi di rak sayur, ada satu ikat kangkung yang belum sempat dimasak sejak siang.

Kadang keputusan paling pas justru datang dari bahan paling sederhana.


Dapur, Api Kecil, dan Bau Bawang Putih

Aku cuci kangkung pelan-pelan. Suara air mengalir terasa menenangkan setelah hari yang panjang. Daunnya masih segar, batangnya renyah waktu dipatahkan. Aku siapkan bawang putih, bawang merah, dan cabai. Tidak banyak. Cukup untuk memberi rasa, bukan untuk pamer.

Saat wajan mulai panas dan bawang putih masuk lebih dulu, aroma langsung naik. Bau yang selalu berhasil mengubah suasana rumah. Mas Jaya berdiri di pintu dapur tanpa suara.

“Kangkung?”
“Iya.”
“Cukup.”

Percakapan pendek, tapi pas.

Abbasy bangun sebentar, mengintip dapur, lalu bilang, “Bun, jangan pedes ya.”
Aku angguk. Malam ini bukan malam yang butuh pedas berlebihan.


Resep Tumis Kangkung ala Rumah

Seperti biasa, aku tulis supaya tidak lupa.

Bahan

  • 1 ikat kangkung, petik dan cuci bersih

  • 3 siung bawang putih, iris tipis

  • 2 siung bawang merah, iris

  • Cabai merah secukupnya, iris serong

  • 1 sendok makan saus tiram

  • Garam secukupnya

  • Sedikit gula

  • Minyak untuk menumis


Memasak Cepat, Tapi Tidak Asal

Minyak aku panaskan, bawang putih masuk lebih dulu. Api sedang. Tidak perlu terburu-buru. Begitu harum, bawang merah dan cabai menyusul. Aku aduk sebentar sampai layu.

Kangkung masuk terakhir. Api aku besarkan sedikit. Aduk cepat. Saus tiram, garam, dan sedikit gula aku masukkan. Tidak lama. Kangkung tidak suka dimasak terlalu lama. Daunnya harus tetap hijau, batangnya masih punya bunyi saat digigit.

Wajan aku matikan. Tumisan aku pindahkan ke piring.

Selesai. Tidak sampai sepuluh menit.


Makan Malam Tanpa Banyak Kata

Kami makan bertiga.
Nasi hangat, tumis kangkung, dan lauk sisa siang tadi. Tidak ada yang berbicara banyak. Abbasy makan sambil setengah menguap. Mas Jaya makan pelan, tapi piringnya kosong.

Kadang masakan tidak perlu rumit untuk membuat rumah terasa lebih tenang. Cukup satu piring sayur yang dimasak dengan niat baik dan api yang tidak terlalu besar.

Setelah makan, Abbasy langsung minta tidur. Mas Jaya membereskan piring tanpa diminta. Aku duduk sebentar di dapur, menikmati sisa hangat wajan.


Catatan Kecil dari Dapur

Beberapa hal yang selalu aku ingat saat menumis kangkung:

  • Bawang putih masuk pertama, tapi jangan sampai gosong

  • Api besar di akhir membuat kangkung tetap segar

  • Jangan terlalu banyak air, kangkung akan mengeluarkan air sendiri

Sederhana, tapi cukup.


Penutup

Malam itu tidak ada menu spesial.
Tidak ada foto cantik yang direncanakan.
Hanya dapur kecil, sayur hijau, dan rumah yang perlahan kembali tenang.

Kalau kamu juga pernah masak sesuatu yang sederhana tapi terasa pas, ceritakan di kolom komentar ya.
Aku selalu percaya, cerita dapur yang paling jujur justru datang dari masakan paling sederhana.

Komentar