Aku tahu hari itu akan melelahkan sejak Mas Jaya bangun tidur sambil menatap ponselnya dengan ekspresi penuh harapan.
“Bun,” katanya,
“Katanya sekarang ada AI yang bisa bantu hidup.”
Aku masih setengah sadar.
“Bantu apa?”
“Bantu apa aja. Termasuk masak.”
Di situlah aku tahu:
hari ini akan ada pembuktian yang tidak diminta.
Ketika AI Masuk ke Dapur Rumah Tangga
Mas Jaya duduk di meja makan, membuka aplikasi, lalu berkata dengan percaya diri,
“Ini namanya Gemini AI.”
Abbasy langsung mendekat.
“Dia orang?”
“Bukan.”
“Terus dia makan?”
Pertanyaan yang masuk akal.
Aku ke dapur sambil mendengar Mas Jaya membaca layar,
“Katanya, kalau mau menu simpel tapi enak, bisa bikin telur balado.”
Aku berhenti.
Telur balado.
Menu yang sudah aku masak sejak sebelum AI tahu cara mengeja kata “balado”.
Aku menoleh.
“Jadi sekarang telur balado itu idenya Gemini AI?”
Mas Jaya mengangkat bahu.
“Katanya sih gitu.”
Baik.
Mari kita lihat sejauh mana AI memahami dapur ibu rumah tangga.
Abbasy dan Logika AI Versi Anak Kecil
Saat aku merebus telur, Abbasy berdiri di kursi kecilnya.
“Bun,” katanya,
“Kalau AI pintar, dia bisa goreng telur nggak?”
“Belum.”
“Oh.”
Dia berpikir sebentar.
“Berarti mama masih lebih pintar.”
Aku mengangguk pelan.
Untuk hari ini, iya.
Resep Telur Balado ala Rumah (dan Sedikit AI)
Aku tulis resepnya di sini, supaya jelas siapa sebenarnya yang bekerja.
Bahan:
-
Telur rebus secukupnya
-
Cabai merah keriting
-
Cabai rawit (opsional, tergantung mental)
-
Bawang merah
-
Bawang putih
-
Garam
-
Gula
-
Minyak
Bahan sederhana.
Tidak ada yang butuh koneksi internet.
Proses Memasak Sambil Dikomentari Teknologi
Aku goreng telur sampai kulitnya sedikit keriput.
Ini penting.
AI tidak menyebutkannya, tapi aku tahu.
Mas Jaya membaca layar.
“Katanya sambalnya ditumis sampai harum.”
“Iya,” jawabku.
“Itu namanya masak.”
Abbasy mencium aroma sambal.
“Bun, ini bau pintar.”
Aku tidak bertanya maksudnya apa.
Aku masukkan telur ke sambal.
Aku aduk pelan.
Sementara itu, Mas Jaya masih membaca.
“Katanya ini cocok buat keluarga.”
Aku menatapnya.
“Telur balado memang dibuat buat siapa?”
Dia terdiam.
Makan Siang dengan AI sebagai Penonton
Kami duduk makan.
Abbasy makan telur dengan lahap.
Satu.
Dua.
“Ini enak,” katanya.
“Lebih enak dari yang di HP.”
Aku tidak tersinggung.
Aku justru senang.
Mas Jaya akhirnya angkat suara.
“Iya… ini lebih enak.”
Aku tersenyum kecil.
Bukan menang.
Lebih ke mengonfirmasi realita.
Catatan Absurd dari Hari Ini
Hari ini aku belajar bahwa:
-
AI bisa kasih ide, tapi tidak bisa cuci wajan
-
Resep digital tetap butuh tangan manusia
-
Anak kecil lebih cepat paham hierarki dapur
Dan yang paling penting:
AI boleh pintar, tapi dapur tetap milik ibu.
Penutup
Hari itu tidak ada revolusi teknologi.
Tidak ada dapur otomatis.
Tidak ada robot masak.
Yang ada cuma telur balado, nasi hangat, dan keluarga yang kenyang.
Dan jujur, itu sudah cukup futuristik buatku.
Kalau kamu pernah mencoba masak karena saran AI, Google, atau “katanya di internet”, tulis di kolom komentar ya.
Aku penasaran, yang menang teknologinya atau dapurnya?

Komentar
Posting Komentar