Pagi ini rumah bangun lebih pelan dari biasanya.
Tidak ada suara Abbasy berlari dari kamar. Tidak ada permintaan sarapan dengan nada mendesak. Bahkan Mas Jaya duduk di ujung kasur lebih lama, memeriksa ponselnya tanpa tergesa.
Mungkin karena semalam kami tidur lebih cepat.
Atau mungkin karena tumis kangkung tadi malam cukup menenangkan semua orang.
Aku ke dapur, membuka jendela. Udara pagi masuk bersama suara burung yang entah sejak kapan mulai rutin mampir. Di kulkas, sisa bahan masih rapi. Wortel, kentang, kol, dan sedikit ayam yang memang aku sisakan.
Pagi seperti ini tidak cocok untuk masakan berat.
Aku langsung tahu, hari ini waktunya sayur sop.
Pagi yang Tidak Ribut Itu Jarang
Saat aku mulai memotong wortel, Abbasy muncul dengan mata setengah terbuka. Rambutnya berdiri ke segala arah. Dia berdiri lama di pintu dapur, mengamati.
“Bun, bau rebus,” katanya.
“Iya,” jawabku, “bau pagi.”
Dia tidak protes. Tidak minta yang lain. Itu sudah kemajuan.
Mas Jaya masuk beberapa menit kemudian. Kali ini bukan karena lapar, tapi karena bau sop memang punya cara sendiri memanggil orang.
“Ini cocok buat pagi,” katanya sambil duduk.
Aku mengangguk. Tidak semua pagi butuh sambal.
Resep Sayur Sop Rumahan
Aku tuliskan seperti biasa. Tidak untuk terlihat rapi, tapi supaya besok atau lusa aku tidak lupa.
Bahan
-
1 buah wortel, potong bulat
-
1 buah kentang, potong dadu
-
Kol secukupnya
-
Buncis secukupnya
-
Ayam secukupnya, potong kecil
-
1 batang daun bawang
-
1 batang seledri
-
Air secukupnya
Bumbu
-
3 siung bawang putih, geprek
-
½ sendok teh lada
-
Garam secukupnya
-
Sedikit gula
Memasak dengan Api Kecil dan Waktu yang Tidak Dikejar
Aku rebus ayam lebih dulu sampai kaldunya keluar. Tidak ada teknik khusus. Api kecil saja. Busa aku buang pelan-pelan.
Bawang putih masuk. Lada. Garam.
Aromanya ringan, tidak mendominasi.
Wortel dan kentang menyusul. Setelah empuk, baru sayuran lain masuk. Kol dan buncis tidak suka terlalu lama di air panas.
Terakhir daun bawang dan seledri.
Aku cicip. Tidak perlu ditambah apa-apa.
Sop memang tidak perlu banyak cerita.
Sarapan yang Tidak Dikejar Jam
Abbasy makan perlahan. Sesekali meniup sendoknya sendiri, seolah sudah dewasa.
“Panas,” katanya, padahal sudah suam-suam kuku.
Mas Jaya makan sambil duduk bersandar. Tidak banyak bicara. Tapi mangkuknya bersih.
Ada pagi-pagi yang terasa seperti ini: tidak istimewa, tapi pas. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang perlu dikejar.
Setelah makan, Abbasy minta tambah kuah. Aku tuangkan sedikit lagi.
Kadang yang dibutuhkan anak kecil bukan lauk favorit. Tapi makanan yang membuat perutnya tenang.
Catatan Kecil dari Dapur
Beberapa hal yang selalu aku ingat soal sayur sop:
-
Bawang putih cukup digeprek, tidak perlu dihaluskan
-
Lada jangan terlalu banyak
-
Sayur masuk bertahap supaya teksturnya tetap enak
Sop itu soal keseimbangan, bukan kejutan.
Penutup
Hari ini belum tentu akan mudah.
Mas Jaya tetap harus kerja. Abbasy pasti akan capek bermain. Aku sendiri belum tahu apa yang harus dimasak nanti malam.
Tapi pagi ini kami memulai hari dengan perut hangat dan rumah yang tenang.
Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.
Kalau kamu juga punya cerita pagi di dapur rumahmu, tulis di kolom komentar ya.
Aku selalu percaya, cerita kecil yang dimasak pelan sering kali paling lama diingat.

Komentar
Posting Komentar