Sayur Bayam dan Reaksi Keluarga Terhadap Kata “Sayur”


Hari ini aku bangun dengan niat hidup sehat.

Niatnya sederhana, tidak muluk-muluk:
masak sayur bening.

Tidak goreng.
Tidak pedas.
Tidak berminyak.

Hanya sayur.
Air.
Dan harapan.

Kesalahan pertamaku adalah mengumumkan niat itu ke seisi rumah.


Reaksi Keluarga Terhadap Kata “Sayur”

Begitu aku bilang,
“Hari ini kita makan sayur bening ya,”
rumah langsung masuk mode diskusi nasional.

Mas Jaya mengerutkan dahi.
“Oh… sayur.”
Nada suaranya seperti baru dengar kabar duka.

Abbasy berhenti main mobil-mobilannya.
“Sayurnya yang pahit nggak?”

Aku bingung.
Sejak kapan sayur bening punya reputasi pahit?

Aku jawab dengan jujur,
“Enggak.”

Dia menatapku dengan penuh curiga.
Seolah-olah aku sering membohonginya soal sayur.


Dapur Berubah Jadi Klinik Kesehatan

Saat aku mulai potong bayam dan oyong, Mas Jaya mendekat.

“Ini bagus buat pencernaan.”
“Iya.”

“Bikin badan enteng.”
“Iya.”

“Cuma nanti lapar lagi.”

Nah.
Itu dia.

Kalimat penutup yang selalu menghancurkan semua niat hidup sehat.

Abbasy ikut nimbrung.
“Bun, habis makan sayur aku boleh biskuit?”

Aku belum menjawab.
Tapi di kepalaku sudah ada papan tulis bertuliskan:
KENAPA SEMUA ORANG NEGOSIASI SETELAH KATA SAYUR MUNCUL?


Resep Sayur Bening ala Tekanan Moral

Bahan

  • Bayam secukupnya

  • Oyong atau labu

  • Jagung manis

  • Bawang merah

  • Bawang putih

  • Garam

  • Air

Tidak ada yang aneh.
Karena sayur bening itu bukan soal rasa.
Dia soal niat baik.


Memasak dengan Banyak Harapan

Air mendidih.
Bumbu masuk.
Jagung menyusul.

Aromanya ringan.
Tenang.
Seperti hidup yang aku impikan tapi jarang terjadi.

Bayam masuk terakhir.

Abbasy berdiri di pintu dapur.
“Bun, ini bisa dimakan dinosaurus?”

Aku mengangguk.
Aku tidak punya energi untuk debat lintas spesies.


Makan Siang yang Penuh Evaluasi

Kami duduk.
Mangkuk di depan masing-masing.

Satu sendok.
Dua sendok.

Abbasy berhenti.
“Ini sayurnya aman.”

Aku tidak tahu apa definisi “aman” menurutnya,
tapi aku anggap itu pujian.

Mas Jaya menyeruput kuah.
“Ini enak sih… tapi kayaknya kurang sesuatu.”

Aku menatapnya.
“Kurang apa?”

Dia berpikir.
“Nasi goreng.”

Baik.


Catatan Absurd dari Dapur Hari Ini

Hari ini aku belajar bahwa:

  • Sayur bening membuat semua orang reflektif

  • Hidup sehat selalu ditutup dengan wacana “tapi”

  • Anak kecil bisa menerima sayur asal ada janji camilan

Dan yang paling penting:
niat hidup sehat itu rapuh.
Sangat rapuh.


Penutup

Hari ini aku berhasil memasak sayur bening.
Dimakan.
Tidak ada yang muntah.
Tidak ada drama besar.

Dan itu, di rumah ini, sudah masuk kategori sukses.

Kalau kamu pernah masak sesuatu demi kesehatan tapi akhirnya ditutup dengan gorengan, tulis di kolom komentar ya.
Kita saling jujur saja sebagai manusia yang niatnya sering kalah sama lapar.

Komentar