Mie Goreng di Hari Ketika Semua Orang Punya Pendapat



Hari ini aku belajar satu hal penting tentang hidup:

semua orang di rumah ternyata ahli mie goreng.

Aku bangun dengan niat mulia.
Masak cepat.
Tidak ribet.
Tidak drama.

Lalu aku bilang kalimat yang seharusnya tidak pernah diucapkan di rumah berpenghuni lebih dari satu orang:

“Hari ini kita makan mie goreng ya.”

Kalimat itu seperti melempar daging ke kandang singa.


Semua Orang Langsung Jadi Pakar

Mas Jaya, yang biasanya hanya berkomentar “enak” atau “kurang asin”, tiba-tiba berubah jadi konsultan kuliner.

“Mi-nya jangan terlalu lembek.”
“Iya.”

“Bumbunya jangan kebanyakan.”
“Iya.”

“Telurnya dipisah aja.”
“Iya.”

Abbasy tidak mau kalah.
Dia berdiri di kursi, menunjuk wajan, dan berkata dengan nada tegas:

“Bun, mie-nya jangan patah.”

Aku berhenti sejenak.

Aku ingin bertanya:
bagaimana cara tidak mematahkan mie sebelum masuk wajan?
Tapi aku urungkan.
Ini bukan hari untuk diskusi filsafat.


Dapur Hari Ini Seperti Ruang Rapat

Aku mulai memasak dengan perasaan seperti sedang ujian praktik.

Minyak panas.
Telur masuk.

“Bun, telurnya diaduk.”
“Iya.”

“Mienya jangan dulu.”
“Iya.”

“Kecapnya nanti.”
“Iya.”

Aku sadar satu hal:
aku bukan sedang memasak,
aku sedang dipantau.

Rasanya seperti live cooking show tanpa honor.


Resep Mie Goreng ala Tekanan Sosial

Bahan

  • 1 bungkus mie instan

  • 1 butir telur

  • Bumbu mie

  • Kecap secukupnya

  • Minyak secukupnya

Tidak ada tambahan aneh.
Karena hari ini aku tidak siap bereksperimen dan disalahkan bersama-sama.


Proses Memasak dengan Banyak Interupsi

Mie aku rebus.
Tiriskan.
Masuk wajan.

“Bun, jangan lupa kecap.”
“Iya.”

“Bun, jangan kebanyakan.”
“Iya.”

“Bun, baunya enak.”

Akhirnya.

Abbasy mencium udara lalu berkata,
“Ini mie-nya bau lapar.”

Aku tidak tahu itu pujian atau observasi ilmiah.


Makan Bersama, Penilaian Dimulai

Kami duduk.

Satu suapan.
Dua suapan.

Mas Jaya mengangguk pelan.
Abbasy makan tanpa bicara selama dua menit penuh.

Dua menit.
Itu lama.

“Aku suka,” kata Abbasy akhirnya.

Mas Jaya menambahkan,
“Ini mie goreng yang… ya mie goreng.”

Aku terima.
Itu review jujur.


Catatan Absurd dari Dapur

Hari ini aku belajar bahwa:

  • Mie goreng bisa mengundang banyak opini

  • Semua orang ingin terlibat, tapi tidak mau cuci wajan

  • Anak kecil bisa sangat serius soal mie tidak patah

Dan yang paling penting:
Kadang masak bukan soal rasa, tapi soal bertahan hidup di dapur.


Penutup

Hari ini aku tidak menciptakan masakan luar biasa.
Aku hanya berhasil melewati satu sesi masak tanpa debat besar.

Dan jujur, itu pencapaian.

Kalau kamu pernah masak sesuatu yang seharusnya simpel tapi berubah jadi sidang keluarga, ceritakan di kolom komentar ya.


Biar aku tahu aku tidak sendirian di dunia ini.

Komentar