Hujan itu datang tanpa permisi.
Seperti komentar netizen.
Awalnya cuma gerimis. Aku masih sempat menjemur handuk, masih sempat berharap cuaca hanya bercanda. Tapi lima menit kemudian, hujan turun dengan niat. Niat yang serius. Niat yang membuat langit kelihatan seperti sedang curhat panjang.
Aku menutup jendela, menatap ke luar, lalu ke dalam rumah. Jaya sudah duduk di sofa, Abbasy sudah rebahan sambil memeluk dinosaurus plastiknya. Televisi menyala, tapi tidak ada yang benar-benar menonton.
Ini biasanya pertanda satu hal:
sebentar lagi akan ada permintaan gorengan.
Aku tahu siklus ini. Aku hafal.
Pertanda Awal Bencana Dapur
Belum sempat aku duduk, Abbasy menoleh.
“Bun…”
Nada ini berbahaya.
Nada sebelum permintaan.
“Iya?” jawabku hati-hati.
“Kalau hujan gini, enaknya apa?”
Pertanyaan polos yang sebenarnya jebakan. Karena jawaban apa pun akan ditindaklanjuti.
Aku berpikir cepat. Sup? Terlalu sehat. Nasi goreng? Sudah kemarin. Mie? Nanti ada yang komentar.
Aku belum menjawab, Jaya ikut nimbrung dari sofa.
“Kalau hujan tuh enaknya yang… anget. Yang kriuk.”
Nah.
Kalimat “yang kriuk” itu seperti mantra pemanggil minyak panas.
Aku berdiri.
Aku ke dapur.
Aku membuka kulkas.
Isinya: wortel setengah, kol setengah, daun bawang sisa dua batang, dan tepung.
Aku menutup kulkas pelan-pelan.
Di situlah aku sadar:
hari ini bakwan.
Bakwan: Gorengan yang Tidak Pernah Salah, Tapi Selalu Diperdebatkan
Bakwan adalah gorengan yang paling sering diremehkan. Dia tidak seikonik tempe goreng, tidak seberisik cireng, tidak seberbahaya tahu isi. Tapi bakwan selalu ada saat kita butuh pelukan emosional dalam bentuk minyak.
Aku bilang dengan nada netral,
“Kita bikin bakwan ya.”
Reaksi rumah langsung beragam.
Abbasy bangkit setengah duduk.
“Bakwan yang ada jagungnya?”
Jaya mengangkat alis.
“Bakwan yang renyah ya. Jangan yang lembek.”
Aku mengangguk.
Seperti orang yang sedang mencatat tuntutan klien.
Padahal yang masak aku.
Yang goreng aku.
Yang nanti cuci wajan juga aku.
Dapur Mulai Basah, Minyak Belum
Aku mulai memotong sayur. Wortel diparut. Kol diiris tipis. Daun bawang aku potong sambil mikir hidup.
Hujan di luar makin deras.
Dapur mulai lembap.
Perasaan mulai tidak stabil.
Abbasy berdiri di bangku kecilnya.
“Bun, bakwan itu sayur kan?”
“Iya.”
“Berarti sehat dong?”
“Iya.”
Dia berpikir sejenak.
“Kalau gitu aku makan dua, tapi habis itu boleh cokelat?”
Negosiasi dimulai.
Aku tidak menjawab. Aku terlalu sibuk mengaduk adonan dan menyusun hidup.
Resep Bakwan Sayur ala Rumah yang Kehujanan
Aku tulis di sini, karena kalau tidak ditulis, besok aku lupa takarannya dan menyalahkan dunia.
Bahan:
1 buah wortel, parut kasar
Kol secukupnya, iris tipis
2 batang daun bawang, iris
Jagung manis (opsional, tapi sering diminta)
8 sdm tepung terigu
2 sdm tepung beras
2 siung bawang putih, halus
Garam secukupnya
Merica sedikit
Air secukupnya
Tidak ada bahan rahasia.
Bakwan itu jujur.
Yang bikin ribet biasanya manusianya.
Adonan dan Komentar yang Tidak Diminta
Aku campur semua bahan.
Air aku tuang sedikit demi sedikit.
Jaya datang ke dapur. Berdiri. Terlalu dekat.
“Adonannya jangan encer.”
“Iya.”
“Kalau encer nanti nyerap minyak.”
“Iya.”
“Kalau kental nanti keras.”
Aku berhenti mengaduk.
Aku menatapnya.
“Menurut kamu, konsistensinya gimana?”
Dia diam.
Aku lanjut mengaduk.
Hidup memang begitu. Semua orang punya opini, tapi jarang yang mau pegang spatula.
Minyak Panas, Ketegangan Naik
Minyak aku panaskan. Api sedang. Tidak boleh terlalu panas, tidak boleh terlalu dingin. Bakwan itu sensitif. Seperti perasaan ibu rumah tangga saat hujan dan lapar bersamaan.
Aku masukkan satu sendok adonan.
Minyak berbunyi.
cressss
Suara ini selalu membawa harapan.
Bakwan pertama jadi. Bentuknya tidak simetris. Tapi siapa yang peduli? Ini bukan lomba.
Aku angkat. Tiriskan.
Abbasy langsung mendekat.
“Bun, itu punya aku ya.”
“Panas.”
“Aku tiup.”
Kepercayaan diri anak kecil itu luar biasa.
Rumah Mendadak Ramai
Bakwan kedua. Ketiga. Keempat.
Aroma gorengan mulai menyebar. Hujan di luar masih deras, tapi rumah mulai terasa hangat. Jaya berdiri sambil mengamati, seperti sedang menonton pertandingan.
“Kayaknya yang ini lebih renyah,” katanya menunjuk bakwan kelima.
Aku tidak tahu dia menilai dari mana.
Aku tidak bertanya.
Abbasy duduk sambil menghitung.
“Satu… dua… tiga…”
Bakwan keempat sudah masuk mulutnya.
Hitungan tidak pernah akurat.
Makan Bakwan Saat Hujan: Ritual Sakral
Kami duduk bertiga. Piring bakwan di tengah. Sambal di satu sisi. Teh hangat di sisi lain.
Hujan masih turun.
Abbasy menggigit bakwan dengan ekspresi serius.
“Ini bakwannya bunyi.”
Aku senyum.
Itu pujian tertinggi.
Jaya makan satu, lalu dua. Tidak komentar. Ini pertanda bagus.
Lima menit kemudian, dia bicara.
“Ini enak.”
Selesai.
Aku tidak butuh review panjang.
Konflik Kecil yang Selalu Datang
Bakwan tinggal dua.
Abbasy menatap piring.
“Bun, itu punya aku kan?”
Jaya juga menatap piring.
Aku angkat satu bakwan.
Aku belah dua.
Keheningan.
Aku baru sadar:
bakwan tidak bisa dibelah adil.
Yang satu pasti lebih besar.
Aku memberikan bagian yang lebih besar ke Abbasy.
Jaya menghela napas.
Aku pura-pura tidak melihat.
Catatan Absurd dari Hari Hujan Ini
Hari ini aku belajar bahwa:
Hujan selalu memicu keinginan gorengan
Bakwan bisa jadi alat diplomasi keluarga
Semua orang mau bakwan, tapi tidak mau goreng
Dan yang paling penting:
bakwan tidak pernah menyelesaikan masalah,
tapi dia membuat masalah terasa lebih ringan.
Penutup Cerita
Hujan berhenti menjelang sore.
Piring kosong.
Wajan berminyak.
Abbasy tertidur di sofa.
Jaya kembali ke ponselnya.
Aku berdiri di dapur, mencuci wajan sambil berpikir:
besok masak apa lagi?
Tapi itu urusan besok.
Hari ini aku sudah menyelamatkan satu sore hujan dengan tepung, sayur, dan minyak panas. Dan entah kenapa, rasanya cukup membanggakan.
Kalau kamu juga punya cerita hujan yang berakhir dengan gorengan, tulis di kolom komentar ya.
Kita bisa tertawa bersama, sambil pura-pura lupa soal minyak dan kolesterol.

Komentar
Posting Komentar