Ayam Goreng Lengkuas di Sore yang Bau Minyak



Sore itu rumah terasa lengang.
Mas Jaya belum pulang, Abbasy tidur lebih awal dari biasanya, dan aku berdiri di dapur dengan satu pertanyaan sederhana: masak apa hari ini?

Kulkas tidak kosong, tapi juga tidak memberi inspirasi besar. Ada ayam, lengkuas, bawang, dan sisa nasi pagi. Hari seperti ini biasanya tidak butuh menu yang ribet. Yang dibutuhkan hanya masakan yang bisa mengisi rumah dengan aroma, supaya rasanya tidak terlalu sepi.

Aku ambil lengkuas dari laci bawah. Sudah mulai kering di ujungnya, tapi aromanya masih kuat saat diparut. Bau khas itu langsung memenuhi dapur. Bau yang mengingatkan aku pada dapur ibu dulu. Hangat, sedikit pedas, dan selalu terasa rumah.

Aku tahu saat itu juga: ayam goreng lengkuas.


Dapur yang Sunyi Tapi Ramai Pikiran

Memasak sendirian rasanya berbeda.
Tidak ada suara kecil minta dicicip, tidak ada yang berdiri terlalu dekat dengan wajan. Tapi justru di saat seperti ini, dapur terasa seperti tempat paling jujur untuk berpikir.

Sambil menghaluskan bumbu, aku ingat pagi tadi Abbasy sempat rewel karena kaus kakinya tidak mau dipakai. Mas Jaya buru-buru berangkat kerja tanpa sarapan, hanya sempat minum kopi dua teguk. Hari berjalan cepat, dan baru sore ini aku benar-benar berhenti.

Bumbu halus selesai. Lengkuas parut aku sisihkan. Wajan aku panaskan.

Kadang memasak bukan tentang siapa yang makan paling banyak. Tapi tentang menjaga ritme rumah tetap berjalan.


Resep Ayam Goreng Lengkuas ala Dapur Rumah

Aku tulis di sini seperti biasa, supaya bisa dibaca lagi suatu hari nanti.

Bahan

  • 1 ekor ayam, potong sesuai selera

  • 2 batang serai, memarkan

  • 3 lembar daun salam

  • 1 sendok teh ketumbar bubuk

  • Garam secukupnya

  • Air secukupnya

Bumbu Halus

  • 6 siung bawang putih

  • 4 siung bawang merah

  • 3 cm lengkuas

  • 2 cm kunyit

Lengkuas Goreng

  • 150 gram lengkuas, parut halus


Memasak Pelan, Tidak Perlu Terburu-Buru

Ayam aku masukkan ke panci bersama bumbu halus, serai, daun salam, ketumbar, dan garam. Aku tambahkan air sampai ayam hampir terendam. Api kecil saja. Tidak perlu buru-buru.

Saat ayam direbus, aroma mulai keluar pelan-pelan. Tidak menyengat, tapi cukup untuk membuat dapur terasa hidup.

Lengkuas parut aku goreng terpisah. Ini bagian yang harus sabar. Api terlalu besar membuatnya cepat gosong. Aku aduk perlahan sampai warnanya berubah kecokelatan dan teksturnya kering.

Ayam aku angkat setelah bumbunya meresap dan air hampir habis. Baru kemudian aku goreng sampai permukaannya keemasan.

Bau minyak panas bercampur lengkuas itu… sulit dijelaskan, tapi selalu berhasil membuat rumah terasa lebih penuh.


Mas Jaya Pulang di Waktu yang Tepat

Saat aku meniriskan ayam, pintu depan terbuka.
Mas Jaya masuk, wajahnya lelah, tas kerja masih di pundak.

“Bau apa ini?”
“Ayam goreng lengkuas.”
“Oh.”

Itu saja komentarnya. Tapi aku tahu, nada suaranya berubah.

Abbasy bangun tak lama kemudian. Rambutnya masih berantakan, matanya setengah terbuka. Dia berjalan ke dapur, berhenti, lalu bilang pelan,
“Bun… ini bau ayam yang serius.”

Aku tertawa kecil.

Kami makan bertiga tanpa banyak bicara. Lengkuas aku taburkan di atas ayam dan nasi. Abbasy makan pelan, tapi habis. Mas Jaya nambah nasi tanpa komentar.

Kadang itu sudah cukup sebagai penilaian.


Catatan Kecil dari Dapur

Beberapa hal yang biasanya aku perhatikan:

  • Ayam sebaiknya direbus sampai bumbu benar-benar meresap sebelum digoreng

  • Lengkuas goreng harus ditiriskan benar-benar kering supaya tidak pahit

  • Api kecil saat merebus membuat rasa lebih keluar

Tidak ada trik aneh. Hanya sabar.


Penutup

Sore itu tidak ada kejadian besar.
Tidak ada drama dapur.
Tidak ada makanan yang tersisa di piring.

Tapi rumah terasa lebih tenang setelahnya.
Dan kadang, itu yang paling dicari dari sebuah masakan.

Kalau kamu juga masak hari ini, atau punya cerita kecil dari dapur rumahmu, tulis di kolom komentar ya.




Komentar